Tradisi Ithuk-Ithukan Glagah Banyuwangi Sebagai Wujud Syukur Warga Osing atas Mata Air Kajar yang Menghidupi.

BANYUWANGIHITS.ID – Bagi warga Dusun Rejopuro, Desa Kampunganyar, Kecamatan Glagah, air bukan sekadar kebutuhan hidup, melainkan bagian penting dari cara mereka memaknai kehidupan. Hal itu tercermin dalam tradisi Ithuk-Ithukan, sebuah warisan budaya yang terus dijaga oleh masyarakat Suku Osing sebagai bentuk syukur atas keberadaan mata air Kajar.
Berkunjung ke Rejopuro bukan hanya tentang menikmati atraksi budaya, tetapi juga memahami bagaimana masyarakat setempat merawat sumber kehidupan mereka. Mata air Kajar menjadi nadi kehidupan warga, mengalir untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, mengairi sawah, hingga menjaga keberlangsungan tradisi turun-temurun.
Dalam tradisi tersebut, ribuan ithuk terlebih dahulu didoakan bersama, kemudian diarak menyusuri jalan desa. Prosesi ini bukan sekadar kegiatan budaya, melainkan simbol eratnya hubungan antara manusia, alam, dan makanan yang dihasilkan dari keduanya.
Sepanjang arak-arakan, tidak ada sekat antara warga dan tamu. Siapa pun dapat bergabung, berjalan bersama, hingga duduk dan menikmati ithuk dalam suasana kebersamaan. Sesepuh adat Rejopuro, Sarino, menyebut tradisi ini sebagai bentuk rasa syukur yang terus dilestarikan lintas generasi.
“Ini merupakan rasa syukur kami atas sumber mata air yang melimpah. Tentunya ini berkah yang membawa manfaat bagi masyarakat sekitar sini,” katanya pada Rabu 29/4/2026.
Air dari mata air Kajar tidak hanya menghidupi warga Rejopuro, tetapi juga mengalir ke lahan pertanian di desa-desa sekitar. Setiap ithuk yang dibagikan pun mengandung makna bahwa kehidupan masyarakat tidak terlepas dari peran alam.
Kepala Desa Kampunganyar, Suwandi, menuturkan bahwa tradisi ini juga menjadi sarana edukasi bagi generasi muda agar terus menjaga rasa syukur dan kepedulian terhadap lingkungan.
“Ini wujud syukur kami atas pemberian dari Tuhan Yang Maha Esa, terutama atas nikmat air yang mengalir tanpa henti,” terangnya.
Setelah prosesi arak-arakan, warga berkumpul dan makan bersama tanpa perbedaan. Daun pisang dibuka, dan ithuk disantap dalam suasana hangat dan sederhana. Tidak ada pembatas antara satu dengan lainnya, semua duduk dalam ruang yang sama untuk berbagi makanan dan cerita.
Menariknya, kebersamaan ini juga menjangkau warga yang tidak dapat hadir. Ithuk akan diantarkan langsung ke rumah mereka sebagai bentuk kepedulian sosial yang terus dijaga.
Di balik kesederhanaannya, ithuk memiliki makna mendalam. Selain menjadi simbol kesetaraan karena semua orang menerima sajian yang sama, ithuk juga mencerminkan nilai kepedulian antar warga serta mengingat akan pentingnya sumber kehidupan.
Air dari mata air Kajar menjadi inti dari semuanya. Tanpa air, tidak ada pertanian yang menghasilkan, tidak ada makanan yang tersaji, dan tidak ada tradisi yang bisa terus diwariskan. (Redaksi)
