Tutup Iklan X

Usaha Laundry di Banyuwangi Tertekan Kenaikan LPG Non-Subsidi, Pelaku Usaha Terpaksa Naikkan Tarif.

Pemilik Q-ta Laundry yang berlokasi di Jalan Kolonel Sugiyono. Ia mengaku terpaksa menaikkan tarif layanan. Foto: Redaksi BanyuwangiHits.id

BANYUWANGIHITS.ID – Kenaikan harga LPG non-subsidi mulai memberikan dampak signifikan bagi pelaku usaha kecil di Banyuwangi, Jawa Timur. Salah satu sektor yang terdampak adalah bisnis laundry, yang kini harus menghadapi lonjakan biaya operasional di tengah melemahnya daya beli pelanggan.

Kondisi ini dirasakan langsung oleh Wulan Lestari, pemilik Q-ta Laundry yang berlokasi di Jalan Kolonel Sugiyono. Ia mengaku terpaksa menaikkan tarif layanan sebagai langkah untuk menutup kenaikan biaya produksi.

“Yang reguler sebelumnya Rp 7.000 per kilo, sekarang jadi Rp 8.000. Tidak bisa kalau tidak naik,” ujarnya pada Selasa (21/4/2026).

Menurut Wulan, penyesuaian harga dilakukan setelah berbagai komponen biaya mengalami kenaikan dalam beberapa waktu terakhir. Harga bahan baku parfum, misalnya, melonjak hingga 80 persen, dari sekitar Rp 400.000 menjadi hampir Rp 800.000 per jerigen. Sementara itu, harga plastik juga naik hingga 70 persen.

Tak hanya itu, kenaikan harga LPG yang menjadi kebutuhan utama dalam operasional laundry, terutama untuk setrika uap dan proses pengeringan, turut memperberat beban usaha.

Baca juga :  Kalapas Banyuwangi Sematkan Kenaikan Pangkat 30 Pegawai, Tekankan Tanggung Jawab dan Integritas.

“Sudah naik semua. Parfum naik duluan, plastik naik, sekarang LPG. Rasanya mau pingsan,” kata Wulan. Dalam kegiatan usahanya, ia menggunakan LPG 12 kilogram yang biasanya habis setiap dua hingga tiga hari untuk menangani sekitar 200 kilogram cucian.

Di sisi lain, kenaikan tarif tidak serta-merta meningkatkan pendapatan. Wulan menyebut daya beli pelanggan justru mengalami penurunan hingga 30 persen, sehingga berdampak pada jumlah order yang masuk.

“Kalau dinaikkan lagi, pelanggan pasti komplain. Daya beli sekarang juga turun,” ujarnya. Kondisi ini membuat margin keuntungan usaha semakin tertekan.

Meski demikian, Wulan mengaku tetap berupaya mempertahankan usahanya, termasuk tidak mengurangi jumlah karyawan yang ada saat ini.

“Masih di posisi bertahan. Karyawan belum dikurangi, jangan sampai,” katanya. Ia juga menilai kebijakan penggunaan LPG non-subsidi bagi pelaku usaha seharusnya mempertimbangkan skala usaha yang dijalankan.

“Jangan dipukul rata,” ujarnya.

Wulan mengakui, hingga kini belum banyak pilihan yang bisa diambil jika harga terus mengalami kenaikan. Untuk sementara, ia memilih bertahan di tengah tekanan biaya yang semakin berat.

“Kalau naik lagi, jujur saja, susah sekali. Sekarang saja sudah berat,” tutupnya. (Redaksi)