Harga Kemasan Plastik Naik hingga 70 Persen, Pedagang Banyuwangi Tertekan.

BANYUWANGIHITS.ID – Lonjakan harga kemasan plastik dalam beberapa pekan terakhir membuat pelaku usaha di Banyuwangi, Jawa Timur, harus menyusun strategi baru agar tetap bertahan di tengah tekanan biaya produksi.
Kenaikan harga yang mencapai hingga 70 persen dalam kurun waktu sekitar tiga pekan ini tidak hanya menggerus margin keuntungan pedagang, tetapi juga mempengaruhi pola distribusi dan penjualan di lapangan.
Salah satu pelaku usaha yang merasakan dampak tersebut adalah Steven Wijaya, pemilik Toko Royal Plastik dan Kemasan di Jalan KH Agus Salim. Ia mengaku kini lebih berhati-hati dalam menjalankan usahanya dan tidak lagi berani menyimpan stok dalam jumlah besar.
“Sekarang tidak berani ambil banyak barang. Takut harga masih naik turun, jadi hanya beli kalau ada pesanan saja,” katanya, Selasa (7/4/2026).
Menurut Steven, kenaikan harga mulai terasa sejak pertengahan Maret 2026. Pada awalnya, harga hanya naik sekitar 30 persen pada pekan pertama, namun terus merangkak hingga mencapai 70 persen dalam waktu singkat.
Sejumlah produk kemasan mengalami kenaikan signifikan. Gelas plastik kualitas standar yang sebelumnya dijual sekitar Rp 7.500 per slop kini naik menjadi Rp 12.000. Untuk merek tertentu, harganya bahkan sudah menyentuh Rp 15.000 hingga Rp 20.000 per slop. Selain itu, harga kantong kresek turut melonjak dari Rp 3.500 menjadi Rp 6.000 per kemasan, sementara wadah styrofoam naik dari Rp 23.000 menjadi Rp 35.000 per bal.
Kondisi tersebut memaksa pedagang melakukan berbagai penyesuaian, termasuk membatasi pemberian kantong plastik kepada pembeli.
“Sekarang kalau belanja sedikit, tidak saya kasih kresek,” ujar Steven.
Selain mengurangi stok, Steven juga memilih menghabiskan persediaan yang ada untuk meminimalkan risiko kerugian apabila harga tiba-tiba turun.
“Kalau beli banyak sekarang, lalu bulan depan harga turun, kita bisa kesulitan jualnya,” katanya.
Disisi lain, kenaikan harga ini turut mempengaruhi perilaku konsumen. Para pelanggan yang mayoritas merupakan pelaku usaha makanan dan minuman mulai menahan pembelian meskipun kebutuhan terhadap kemasan plastik tetap tinggi.
“Pasarnya sebenarnya masih bagus, karena plastik ini kebutuhan. Tapi, karena harganya naik tinggi, pembeli jadi ikut menahan belanja,” ujar Steven.
Diketahui, lonjakan harga kemasan plastik dipicu oleh faktor global, salah satunya konflik di Timur Tengah yang berdampak pada pasokan bahan baku petrokimia. Selain itu, terganggunya jalur pelayaran di Selat Hormuz turut memperlambat distribusi, sehingga pasokan tersendat dan harga ikut melonjak.
Kondisi ini membuat pelaku usaha di Banyuwangi harus terus beradaptasi, sembari berharap harga kembali stabil agar aktivitas perdagangan dapat berjalan normal. (Redaksi)
