Tutup Iklan X

Bupati Banyuwangi Dukung Swasembada Pangan dengan Ajak Anak Muda Terjun ke Pertanian Modern.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani terus mengajak generasi muda untuk aktif terlibat dalam sektor pertanian. Foto: Redaksi BanyuwangiHits.id

BANYUWANGIHITS.ID –  Dalam rangka mendukung program swasembada pangan yang dicanangkan pemerintah pusat, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani terus mengajak generasi muda untuk aktif terlibat dalam sektor pertanian. Dorongan ini disampaikan saat dialog bersama petani Gapoktan Surangganti dan kelompok petani milenial di Desa Gladag, Kecamatan Rogojampi, Minggu (1/3/2026).

“Salah satu program prioritas pemerintah adalah swasembada pangan. Karena itu, keterlibatan anak muda sangat penting utamanya dalam penerapan teknologi pertanian (smart farming),” kata Ipuk.

Di lokasi pertemuan tersebut, Gapoktan Surangganti memperkenalkan Usaha Pelayanan Jasa Alsintan (Upja) Tani Makmur yang berbasis di Desa Gladag. Unit ini menyediakan layanan alat dan mesin pertanian (alsintan) untuk mendukung praktik pertanian dari hulu hingga hilir, sekaligus melibatkan pemuda sebagai operator.

Beragam alat modern disiapkan untuk menunjang kegiatan pertanian, seperti traktor untuk pengolahan tanah, grain seeder untuk persemaian, transplanter untuk penanaman benih, drone sprayer untuk penyemprotan pupuk cair, serta combine harvester untuk panen. Kehadiran teknologi tersebut diharapkan dapat mempercepat dan mempermudah proses budidaya.

Baca juga :  Nelayan 69 Tahun Asal Banyuwangi Tewas Mengapung di Selat Bali, Polisi Selidiki Penyebabnya.

Ipuk menegaskan bahwa peran generasi muda tidak hanya sebagai tenaga kerja, tetapi juga sebagai agen perubahan yang membawa ide-ide inovatif serta praktik pertanian modern ke lapangan.

“Kami ingin mendorong pemuda tidak hanya menjadi tenaga kerja, tetapi agen perubahan yang membawa ide-ide baru, teknologi, dan praktik pertanian modern ke lapangan,” kata Ipuk.

Manajer Upja Tani Makmur, Heru, menjelaskan bahwa penggunaan alsintan terbukti memberikan keuntungan signifikan bagi petani, baik dari segi produktivitas, biaya, maupun waktu. Dengan mekanisasi, proses budidaya menjadi lebih efisien dibandingkan metode manual.

“Untuk 1 hektar lahan, menanam padi secara manual butuh 12 orang per hari. Dengan transplanter, cukup 4 orang per hari sehingga lebih hemat ongkos pekerja,” kata Heru.

Menurut Heru, keuntungan waktu juga jelas terasa karena proses penanaman yang semakin cepat memungkinkan perluasan areal tanam, yang berdampak pada potensi peningkatan hasil panen.

“Dari sisi waktu, petani juga diuntungkan. Semakin cepat proses tanam, luasan tanam yang dihasilkan juga semakin besar. Tentu akan berimbas pada peningkatan produksi petani,” imbuhnya.

Upaya mendorong keterlibatan generasi muda di sektor pertanian ini sejalan dengan berbagai langkah pemerintah daerah untuk memodernisasi pertanian lokal melalui pemanfaatan teknologi dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia, sehingga target swasembada pangan dapat terwujud secara berkelanjutan. (Redaksi)